WritingWhitespace Itu Bukan Ruang yang Kebuang

Whitespace Itu Bukan Ruang yang Kebuang

28 Jun 2026 · Design · 2 min read

Preview artikel tentang whitespace

Ada satu momen yang hampir selalu kejadian waktu aku kerja bareng orang lain atau lagi revisi desain. Begitu ada area yang sengaja aku biarkan kosong, pasti ada komentar yang kurang lebih bunyinya, 'Ini masih kosong ya? Diisi aja biar lebih penuh.' Awalnya aku cuma senyum-senyum, tapi lama-lama aku sadar ternyata banyak yang memang mengira ruang kosong itu berarti desainnya belum selesai.

Padahal justru sebaliknya. Kadang ruang kosong itu sengaja dibuat supaya mata bisa istirahat sebentar sebelum pindah ke informasi berikutnya. Kalau semua sudut diisi teks, ikon, atau ornamen, akhirnya nggak ada lagi yang benar-benar menonjol. Semuanya berebut perhatian di waktu yang bersamaan.

Yang paling sering bikin revisi berulang juga biasanya di bagian ini. Aku menghapus sesuatu karena memang nggak diperlukan, lalu saat direview malah diminta menambah elemen baru supaya kelihatan lebih ramai. Setelah dijelaskan lagi alasannya, baru bagian yang tadi ditambahkan akhirnya dihapus lagi. Siklusnya bisa berulang beberapa kali hanya karena kita punya cara pandang yang berbeda terhadap ruang kosong.

Sejak itu aku jadi lebih sering menjelaskan kalau ruang kosong bukan berarti ada yang kurang. Justru ruang kosong membantu elemen lain bernapas. Sama seperti waktu ngobrol, kita juga butuh jeda di antara kalimat. Kalau semua kata diucapkan tanpa berhenti, orang mungkin tetap mendengar, tapi akan jauh lebih sulit memahami maksudnya.